
Prodi Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo Gelar Pembekalan Praktikum I Peradilan Agama
Januari 6, 2026
Perkuat Kompetensi Mahasiswa di Dunia Kerja, Prodi Hukum Ekonomi Syariah Ajukan Izin Praktikum Mahasiswa di Berbagai Instansi Ponorogo dan Madiun
Juli 17, 2026Ponorogo – Dalam rangka membekali mahasiswa dengan kesiapan akademik, metodologis, serta pemahaman administrasi tugas akhir yang matang, Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HES) Fakultas Syariah UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Skripsi. Acara ini ditujukan khusus bagi mahasiswa prodi HES angkatan 2023 dan dilaksanakan secara khidmat pada hari Selasa, 26 Mei 2026 bertempat di Aula Fakultas Syariah.

Kegiatan penting ini dibuka langsung oleh Prof. Dr. Hj. Khusniati Rofiah, M.S.I. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya riset tugas akhir yang berkualitas, menjaga orisinalitas, serta relevansi topik penelitian dengan dinamika hukum ekonomi syariah yang berkembang pesat di masyarakat saat ini.

Peta Operasional Riset HES dan Sosialisasi Matrik Melalui Siakad
Sesi pertama disampaikan oleh Sekretaris Prodi Hukum Ekonomi Syariah, Anjar Kususiyanah, M.Hum., yang mengupas tuntas mengenai “Peta Operasional Riset Hukum Ekonomi Syariah”. Beliau mengarahkan mahasiswa agar mampu membangun anatomi topik skripsi yang kuat melalui 4 langkah utama, yaitu menemukan fenomena nyata, mengidentifikasi celah hukum (gap), merumuskan masalah, hingga menentukan metode dan sumber data.
Selain membedah peta riset, beliau juga mengingatkan etika penggunaan AI yang hanya diperbolehkan sebagai asisten riset (brainstorming, outline, meringkas literatur) , namun sangat dilarang melakukan copy-paste analisis AI mentah guna menghindari halusinasi AI. Sejalan dengan hal tersebut, nalar dan integritas akademik tetap menjadi hal yang utama. Pada sesi ini pula, Anjar Kususiyanah memberikan panduan teknis mengenai aspek administratif pendaftaran tugas akhir. Beliau menjelaskan secara detail proses pengajuan matrik proposal skripsi yang kini harus dilakukan oleh mahasiswa secara terintegrasi melalui sistem informasi akademik (Siakad) kampus, guna memudahkan pelacakan administrasi, verifikasi kuota pembimbing, dan efisiensi waktu pengajuan.

Sesi kedua dilanjutkan oleh Ketua Prodi Hukum Ekonomi Syariah, Wahyu Saputra, M.H.Li., yang menyampaikan materi fundamental mengenai metodologi penulisan skripsi dengan fokus pada strategi mencari masalah dalam penelitian, menggali ide, dan menentukan angle (sudut pandang) skripsi yang tajam.
Wahyu Saputra menjelaskan bahwa inti dari riset hukum adalah kedalaman data dan ketepatan menemukan masalah hukum, baik berupa kekosongan/konflik norma (jalur normatif) maupun jarak antara norma dan praktik nyata (jalur empiris). Beliau memberikan contoh konkret dalam masalah ekonomi kontemporer, di mana mahasiswa harus jeli melihat realitas ekonomi di masyarakat lalu ditarik ke dalam ranah hukum Islam.
Lebih lanjut, beliau memaparkan lima kriteria utama agar sebuah ide/masalah ekonomi layak diangkat menjadi skripsi, yaitu: Unik (lain dari hal yang lazim), Magnitude (skala masalahnya besar), Efek Kedekatan (tidak terlalu utopis/jauh), Aktual (sedang hangat diperbincangkan), dan Relevansi (menyangkut kepentingan orang banyak atau tokoh).
Di akhir pemaparan, Ketua Prodi mengingatkan beberapa kesalahan klasik yang wajib dihindari mahasiswa, seperti meneliti aturan tetapi teorinya menggunakan aturan itu sendiri, serta melakukan penelitian komparasi yang sekadar menceritakan ulang pendapat tanpa melakukan analisis komparatif yang substantif. Beliau juga melarang keras mahasiswa mengulang-ulang penelitian yang sama hanya dengan sekadar berpindah lokasi penelitian tanpa menawarkan kebaruan konsep.

Melalui penyelenggaraan bimbingan teknis yang padat karya dan komprehensif ini, Program Studi HES UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo berharap mahasiswa angkatan 2023 dapat segera melangkah maju mengajukan proposal skripsi dengan matang lewat Siakad. Dengan demikian, kualitas kelulusan yang tinggi dapat dicapai dengan nalar kritis yang terjaga, karena “Alat boleh canggih, namun nalar tetap rajanya.”




